IHSG dan Rupiah Berpeluang Bergerak Sideways

MEDAN, siaranrakyat – Gubernur Bank Sentral AS dalam pidatonya tidak memberikan arah yang jelas terkait dengan kebijakan moneternya.

Belum ada gambaran pasti bagaimana kebijakan Bank Sentral AS nantinya. Sehingga pasar tidak mendapatkan apapun dari pidato The FED, dan bursa AS ditutup mixed. Di Asia, sejumlah bursa juga bergerak mendatar.

Berdasarkan amatan Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, bahwa China di pagi ini merilis data laju tekanan inflasi. Dimana ekonomi China justru mencetak deflasi sebesar 0,2% pada bulan oktober ini. Realisasi deflasi tersebut tentunya bukan menjadi kabar baik bagi perekonomian global.

?Mengingat deflassi lebih mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang tentunya akan berpengaruh pada kinerja ekonomi di negara lainnya,? tuturnya, Kamis (9/11).

IHSG pada perdagangan hari ini diproyeksikan bergerak mixed dalam rentang 6.780 hingga 6.830. Pada sesi pembukaan perdagangan hari ini, IHSG terpantau masih berkonsolidasi di kisaran level 6.800.

?Data penjualan ritel di tanah air yang diproyeksikan hanya akan naik sekitar 1% dibandingkan bulan yang sama tahun 2022, tidak akan berpengaruh besar terhadap kinerja indeks bursa saham pada hari ini,? ungkapnya.

Baca Juga :
Harga Kripto 20 Desember 2023: Bitcoin Dkk Kompak Loyo

Sementara itu, kinerja mata uang rupiah pada perdagangan pagi ini sedikit mengalami penguatan di level 15.635 per US Dolar. Mata uang rupiah diproyeksikan akan bergerak cukup stabil dalam rentang 15.610 hingga 15.640 pada perdagangan hari ini.

?Tidak adanya arah kebijakan yang pasti dari pidato The FED tadi malam, telah menggiring sedikit penurunan bagi imbal hasil US Treasury 10 Y. Sehingga rupiah berpeluang bergerak sideways tanpa tekanan yang berarti,? jelasnya.

?Di sisi lainnya, harga emas tadi malam sempat melemah hingga ke level $1.950 per ons troy nya. Dan di sesi perdagangan pagi ini terpantau masih mampu mengalami penguatan tipis di level $1.951 per ons troy. Gambaran yang tidak pasti pada kebijakan moneter AS kedepan ternyata sangat merugikan harga emas. Dan emas mengalami tekanan seiring dengan pernyataan yang bernada hawkish dari pejabat The FED yang lain,? tandasnya. (wol/eko/d1)

Baca Juga :
Penguatan Tata Kelola di Era Digitalisasi, OJK Gelar Risk & Governance Summit

Editor: Ari Tanjung