Pagi Ini Tekanan di Pasar Keuangan Masih Berlanjut

MEDAN, siaranrakyat – Gubernur Bank Sentral AS telah menyampaikan testimoninya, yang secara keseluruhan disimpulkan bahwa Bank Sentral AS masih bernada hawkish.

Alhasil, pasar masih dibayangi oleh kemungkinan kenaikan bunga acuan dalam waktu dekat nanti. Dengan kenaikan bunga acuan lebih dari satu kali lagi masih sangat terbuka.

Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin, menuturkan bursa saham di AS, dan Eropa ditutup zona negatif. Sejumlah Bursa di Asia pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini juga ditransaksikan di zona merah.

?IHSG di akhir pekan ini sangat berpeluang mengalami tekanan. IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 6.800 hingga 6.860. Pada sesi pembukaan perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah di level 6.829,? tuturnya, Jumat (20/10).

Minimnya sentimen pada hari ini, menjadikan sinyal hawkish akan dijadikan acuan dalam pembuatan keputusan investor. Selain itu, sejumlah indikator lainnya seperti imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang mendekati level 5 persen, dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik ke level $90 per barel akan sangat membebani kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.

Baca Juga :
Riset Compas.co.id Temukan Kenaikan Harga Beras Pengaruhi Harga Makanan Pokok Lainnya di E-commerce

?Sikap Hawkish The FED telah menggiring kenaikan imbal hasil yang secara otomatis akan mendorong penguatan US Dolar, dan berpeluang menekan kinerja mata uang Rupiah. Dan kenaikan harga minyak mentah, meskipun di satu sisi akan mendorong penguatan kinerja emiten saham di sektor energy. Namun bagi Rupiah kenaikan harga minyak mentah akan lebih menjadi beban,? ungkapnya.

Mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak sideways dalam rentang 15.800 hingga 15.850. Pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini, kinerja mata uang Rupiah dibuka melemah di level 15.845 per US Dolar.

?Sementara itu, kinerja harga emas mengalami kenaikan di level $1.977 per ons troy pada sesi perdagangan pagi ini. Harga emas seakan tdak terpengaruh oeh sikap The FED. Dimana kinerja harga emas sebelumnya sangat rentan mengalami tekanan manakala The FED memberikan indikasi kenaikan bunga acuan yang lebih besar,? terang Gunawan.

?Namun harga emas mengalami anomali pada perdagangan beberapa pekan terakhir. Harga emas kian mahal seiring dengan meluasnya tensi geopolitik. Emas dinilai sebagai save haven dimana investor kerap lebih memilih emas seiring dengan meningkatnya konflik. Emas sangat berpeluang menguat di level $2.000 per ons troy, mengingat saat ini harganya hanya terpaut sedikit untuk mencapai level tersebut,? tandasnya. (wol/eko/d1)

Baca Juga :
Dari Cari Rumah Hingga Ajukan KPR, Cukup Akses Super Apps BTN Mobile

Editor: Ari Tanjung